Tuesday, February 24, 2015

Dari Adek

Siapa yang sedang merasa benar-benar sendiri selain ditemani oleh Allah? Siapa yang sedang merasa sangat bingung harus berbagi cerita kepada siapa yang  paling tepat tentang semua yang sedang bergumul dalam dirimu? Siapa yang sedang di setiap larut malam harus terpaksa mengeluarkan air mata untuk sekedar menepiskan rasa sedih? Siapa yang sedang berpura-pura semua baik-baik saja di depan semua orang demi membungkus dengan rapih setiap gejolak yang sedang terjadi? Siapa yang sedang merasakan rasa rindu yang amat hebat saat-saat semua terasa sejalan dengan mulus? Siapa yang sedang merindukan kebersamaan keluarga di rumah?

Mungkin saya.

Lekas sembuh ya bapak. Lekas kembali ke rumah dan membangun kembali kekuatan rumah ini. Lekas kembali menjadi pendamping yang paling setia saya bersama mamah.

Thursday, January 29, 2015

Young on Top

Setiap manusia diberikan pilihan. Terkadang, pilihan itu sesuatu yang tidak kita suka dan sulit untuk mengusahakan yang terbaik. Padahal hasil terbaik lebih mudah didapatkan ketika kita mengerjakan sesuatu yang kita suka. Intinya kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi lebih baik apabila kita sudah mencintai apa yang kita lakukan. Mencari dan mengetahui suatu jenis pekerjaan yang kita suka atau bahkan yang kita cintai adalah langkah terpenting yang harus dilakukan untuk tercapainya kesuksesan karir. Namun, saat kita sudah berada di pilihan yang tidak kita suka, beranikan untuk tetap menjalankan itu semua dan Love What You Do yang diawali dengan rasa syukur dan menghargai hal yang kita miliki.

Semua orang sukses mengungkapkan bahwa mereka bersyukur atas semua yang mereka miliki, yang telah mereka lakukan dan telah mereka lalui. Jadi, jika kita belum ingin dan belum mampu bersyukur akan hal-hal sederhana yang kita miliki dan baru berencana akan bersyukur jika nanti kita sudah sukses, percayalah hidup tidak akan bahagia. Kemungkinan besar keseharian kita penuh dengan kekecewaan dan semakin jauh dari arti sebuah kesuksesan jika tidak bersyukur.
Untuk sukses kita harus tahu hal yang kita inginkan maka, semua perilaku dan tindakanmu akan mengupayakan keinginan itu untuk terwujud. Pada umumnya, yang kita inginkan adalah hal-hal yang baik. Oleh sebab itu, dalam melakukan segala tindakan untuk mencapai keinginan tersebut, kamu harus memiliki integritas yaitu melakukan segala sesuatunya dengan jujur dan konsisten. Tingkat kejujuran seseorang berjalan seiring tingkat profesionalisme orang tersebut. Hal itu mendorong kita untuk “naik ke atas” dan akhirnya menikmati arti kesuksesan sesungguhnya.
Salah satu perbedaan antara orang biasa dan orang sukses. Orang sukses tidak takut gagal, Orang sukses tidak takut tidak dapat mencapai impiannya dan biasanya yang mereka buat adalah mimpi yang besar juga dibarengi dengan kepercayaan diri tinggi. Namun, hal itu akan menjadi tidak ada artinya jika kita tidak memiliki hasrat pantang menyerah dalam diri. Sepanjang proses menjadikan impian tersebut menjadi realita, kita pasti melakukan suatu kesalahan dan melewati macam rintangan. Jangan kaget dan panik ketika menemukan masalah. Anggap saja masalah hanyalah sebuah polisi tidur di jalan antara rumah menuju ke sekolah. Kita tidak akan berhenti total dan tidak melanjutkan perjalanan ke sekolah hanya karena polisi tidur di jalan yang kita lalui bukan? Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini jika kita terus menerus berusaha. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan, selain kemauan yang tinggi untuk mencapai kesuksesan itu sendiri.
Selamat menerjang batas meraih impian! :)


Januari 2015. Sudah hampir berakhir.

Saturday, December 27, 2014

Singkat

Hidup itu hanya seputar impian, perjalanan, dan kenangan. Dimana di sela-selanya menguap pertanyaan-pertanyaan yang kadang hanya mampu puas terjawab oleh putaran waktu dan kebenaran takdir. Tugas kita hanya menunggu selagi melakukan rutinitas atau kesibukan, yang pada faktanya ada banyak hal yang sebenarnya sedang berusaha disingkirkan dibalik setiap orang sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Salah satunya hal rindu.

Belum ada yang pasti jika menyibak tentang rasa rindu. Tidak ada barometer yang mampu mengukur kekuatan rindu. Tidak ada yang bisa memastikan kapan rindu itu akan muncul atau akan berakhir. Belum pasti jika orang yang kita jadikan objek kerinduan juga menyimpan rasa yang sama seperti kita. Dengan rindu, juga belum pasti akan ada pertemuan. Bahkan bisa saja sebaliknya, justru tetap dengan perpisahan yang tak kunjung surut.


Entahlah, apa makna yang benar-benar dari rindu? Saya juga belum tahu pasti. Namun, sepertinya rasa yang belum bisa terdefinisikan dengan baik itu sedang berusaha mempermainkan diri saya.

Thursday, December 18, 2014

Banyak

Terkadang tanpa disadari, ada banyak hal yang telah bersedia hadir untuk mewarnai kanvas kehidupan kita, diantaranya kebersamaan. Sampai pada akhirnya, coretan demi coretan kebersamaan itu akan semakin jelas tampak di kala kita menemukan keharusan perpisahan. Berbincang tentang hidup dan masa depan memang banyak sekali bab yang saling menginteverensi. Tentang perpisahan dalam pertemuan, keinginan dalam keputusan, rintangan dalam tantangan, ujian dalam impian. Dalam hidup, kita belajar banyak hokum keseimbangan. Namun satu hal, sungguh kuasa Tuhan yang begitu banyak melimpah dianugerahkan untuk generasi bangsa yang memiliki mimpi yang hebat, jiwa yang tangguh, dan tekad yang kuat. Mungkin adakalanya kita merasa puas terhadap titik yang telah tercapai pada detik ini. Namun, sebenarnya itu bukanlah hakikat tujuan hidup sebenarnya. Bagi para pembelajar sejati, seteguk ilmu yang diminum, akan melahirkan banyak dahaga yang berkali-kali lipat atas ilmu yang baru lagi. Berjuanglah dengan gagah untuk negeri yang besar ini. Semakin banyak perjuangan yang kita gempurkan, maka sama dengan kita sedang meninggikan kehormatan kita. 

Wednesday, December 17, 2014

Hampir Finish

18 Desember 2014. Happy 2nd anniversary Peleton Inti XIV!

Tepat 2 tahun yang lalu, pagi ini kita sedang bersama-sama mendaki lereng sampai hampir menuju puncak untuk beberapa jam kedepan. Setelah melewati malam yang mengajak kita untuk menguatkan langkah dan loyalitas kita, tanpa ada istirahat yang cukup kita kembali lagi pada jadwal yang sudah disusun sedemikian rupa. Paginya, kita bermain bersama bukan? Bersenda gurau, tertawa lepas untuk setidaknya melupakan rasa lelah akibat semalam. Menciptakan gelora-gelora kekompakkan dari setiap segi permainan yang ada. Rasa semangat ini takkan luntur sampai puncak itu berhasil kita taklukan.

Jadi ingat kembali, 2 tahun yang lalu hampir saja aku menyerah di tengah jalan untuk tidak melanjutkan. Namun, berkat kalian semua akhirnya rasa ingin berhenti itu seiring berjalannya waktu justru berubah menjadi tekad yang semakin mengerat.

18 desember 2012, kita diresmikan menjadi keluarga Peleton Inti, perjuangan selanjutnya menunggu untuk kita robohkan bersama, belum ada pikiran untuk semacam perpisahan.

18 desember 2013, sudah satu tahun pelantikan itu terlampaui bersama, suka-duka maupun tawa-tangis sudah banyak tercipta di setiap lembar hari kita, perpisahan itu masih jauh.  

18 desember 2014, sungguh waktu berjalan tidak terkendali. Dua tahun mengalir sederas ombak samudera, perjuangan selama ini tidaklah semudah saat satu tahun yang lebih dulu berlalu. Kebersamaan yang terkadang terasa mulai rapuh namun, kembali lagi kokoh. Rasa lelah yang terkadang menyergap kita namun, sapta bakti lah yang mengembalikan semangat kita. Huh, kita sudah berada di tingkat tertinggi kawan. Sudah ada 2 generasi di bawah kita yang siap menerbangkan lebih tinggi nama TONTI SMANSA. Bayang-bayang purna sudah bukan lagi hanya sekedar semu, namun sudah semakin jelas. Dan, apakah itu bisa disebut sebagai perpisahan? Jika, di setiap hati kita masih ada naluri, ingatan, dan kenangan tentang Angkatan XIV yang sampai kapanpun itu tidak akan hangus.


Dirgahayu Angkatan XIV! Selamat kita hampir sampai garis finis dan siap memulai lagi pada garis berikutnya yang lebih terjal. Semoga pada waktu yang telah ditentukan, kita kembali bersama dengan kesuksesan kita masing-masing.

Saturday, December 13, 2014

Frappocino

Berterimakasihlah pada jarak dan waktu yang menciptakan rasa rindu.

Hujan semakin deras menyemburkan jernih-jernih air yang membasahi jalanan kota. Kita terpaksa harus mencari tempat pemberhentian berteduh. Beruntung saja 5 menit menikmati hujan, kita menemukan sebuah kafe yang cukup strategis. Tidak cukup besar namun juga tidak dalam artian kecil. Nuansanya hangat dengan interior klasik modern. Hanya ada beberapa meja yang telah diisi oleh pengunjung. Permainan antara tuts piano dengan gesekan romantis biola menambah atmosfer kesyahduan. Kafe Frappocino. Tersirat dari namanya, sudah bisa tertebak tentang menu yang disajikan. Kopi dan cokelat- persis kesukaan antara aku dan kamu.

"Selamat malam, selamat datang di Frappocino. Ini table of menu di kafe ini.”


“Terima kasih, saya pesan Hazelnut Carribean”

“Saya Mint Fraphilocinno.”
 Kamu masih menyukai menu yang sama, perpaduan antara mint dan coffee.  Iya, kamu juga masih sama seperti 6 bulan yang lalu- sebelum jarak yang menantang kita.

******
Hujan di luar sana masih enggan mengakhiri butirannya. 

“Maaf.”
 Kata pertama dari kamu pada saat itu dengan sorot mata yang sudah lama sekali aku rindukan.

“Maaf untuk apa?”
 Tanyaku padamu yang terlontar begitu saja.

“Telah menciptakan jarak diantara perjalanan kita."

Kamu sudah tidak pertama kalinya meminta maaf untuk hal ini kepadaku. Namun, baru kali ini kau mengutarakannya secara langsung. Dan, aku pun terdiam untuk mengotak-atik respon terbaik.

 “Tidak seharusnya kita menyalahkan jarak.” Aku menjawab berusaha dengan datar untuk tampak tanpa beban.

“Bukankah jarak yang kadang menyulitkan kita untuk sering bertemu seperti ini? Aku rindu saat kita masih bisa bertemu kapan saja, tidak harus menunggu aku libur seperti ini.”
 Kamu masih saja ngotot menyudutkan jarak sebagai tersangka.

“Itu menyenangkan. Karena jarak, kita rindu. Dengan begitu, kita bisa mengukur kualitas rasa saling membutuhkan. Bukankah seharusnya kita bersyukur?”
 Senyumku tersimpul sederhana untuk kamu- wahai semangatku.

“Ah kamu selalu begitu. Itulah yang membuat aku tidak bisa melepaskan kamu meski aku tahu disini banyak yang menginginkan kamu.” Seringkali celotehanmu yang seperti itu justru membuat aku bertahan, tanpa syarat.

“Membutuhkan dan menginginkan itu berbeda. Dan aku bisa memilih mana yang paling tepat.”

“Kau benar, kita tidak lagi hanya menginginkan. Namun, sudah membutuhkan. Tetaplah seperti ini meski aku kadang merasa kau lelah menjalaninya.”

“Tidak ada perjalanan panjang tanpa rasa lelah. Selagi kita masih saling mendoakan secepatnya rasa lelah itu akan sirna dengan sendirinya.”

“Terima kasih telah mengerti aku. Percayalah pendidikanku disana tidak akan kusia-siakan untuk selalu membuatmu bangga.”

******

Kerinduan. Bukan istilah yang asing untuk dua orang pejuang jarak. Namun, bukan berarti dengan jarak kita lantas menyerah. Kekuatan doa yang membuat kita bertahan sampai di titik ini. Perpisahan ini hanya sementara. Anggap saja sebagai bumbu untuk lebih saling mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.