Saturday, March 21, 2015

Surat Rahasia

Assalamualaikum. Iya salam ini untuk kamu wahai jodoh saya yang masih dalam simpanan rahasia Allah, yang masih sama-sama menunggu pada waktu yang telah ditentukan atas takdir bertemu. Siapa kamu? Apa sekarang kita sudah mengenal dekat, atau sebaliknya masih asing? Apa kita sudah terjalin dalam hubungan sebagai teman, kakak atau justru belum pernah sekalipun bertatap muka? Atau kamu adalah salah satu pembaca kalimat ini?
Oh iya, sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Apakah kamu sedang sibuk mendekatkan diri kepada Allah?
Memohon untuk keberhasilan impian-impian yang sudah kamu tuliskan di buku agenda harianmu? Apa saja impian-impianmu? Profesi apa yang kamu idam-idamkan? Jika boleh meminta, saya ingin kamu menjadi abdi negara seperti kedua orangtua saya. Bukan berarti harus sebagai tentara. Melainkan seperti dalam bidang sandi negara, pemerintahan dalam negeri, pelayaran atau penerbangan. Saya sudah bisa membayangkan kamu dengan gagah mengenakan seragam kebanggaan bersanding di samping saya di tengah-tengah keluarga kita masing-masing. Aamiiin ya rabbal alamin.
Sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Sedang sibuk bercengkerama dengan tumpukan buku dan tugas-tugas yang berserakan kah?
Saya berharap jodoh saya memiliki ilmu juga intelektual yang tinggi, yang melekat dengan jiwa kepemimpinan yang santun. Maaf untuk saat ini belum ditakdirkan untuk bisa menyemangati kamu wahai calon imam saya. Maaf untuk jangkauan sekarang ini saya hanya masih bisa sekedar berdoa agar kita disegerakan untuk bertemu. Karena saya bisa meraba-raba betapa bahagianya perasaan kita jika takdir momen pertemuan itu terwujud dengan indah.
Sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Apa mungkin sedang berdamping-dampingan dengan ayah ibu kamu?
Bersyukurlah kamu ya jika masih diberi kesempatan untuk merasakan keutuhan keluarga bersama kedua orang tua. Karena saya sekarang sudah merasakan pahitnya kehilangan cinta pertama dari orang yang paling saya sayangi, cintai, kagumi dan kasihi. Iya, kehilangan seseorang yang seharusnya di masa depan nanti juga akan menjadi Bapak kamu, menjadi wali saat kamu mengucap janji sehidup semati dengan saya. Yang menjadi pertanyaannya, apakah kamu sudah pernah bertemu dengan Bapak saya? Apakah kamu salah seorang yang kemarin sempat mengantarkan Bapak saya di tempat peristirahatan untuk terakhir kali? Jika iya, syukurlah. Jika tidak, semoga itu bukan jadi masalah kamu untuk tetap saling menghormati dan menyayangi keluarga saya. Saya sangat berharap siapapun kamu yang menjadi jodoh saya adalah sesosok yang dapat sekiranya mengobati kerinduan saya kepada Almarhum Bapak. Seseorang yang sangat mencintai keluarga, memegang tanggung jawab dengan kuat dan tegas, imam yang sangat sholeh, santun dan bijaksana. Sempurna. Aamiiiin ya rabbal alamin.
Sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Apa kamu justru sedang bergumul dengan teman-teman sebayamu di malam yang bebas? 
Saya harap tidak yang demikian ya. Saya tidak ingin memiliki jodoh yang hanya bisa membuang-buang uang dan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, karena itu bukan tujuan hidup yang sebenarnya. Saya yakin kamu sudah bisa menyaring mana yang baik bagimu dan sebaliknya. Saya percaya kamu imam seutuhnya bagi saya dari Allah untuk sama-sama saling mengingatkan menuju kekekalan surgaNya.
Jaga diri ya. Semoga kita lekas bertemu. Saya ingin bercerita banyak kepada kamu.
Wassalamualaikum.


Thursday, March 19, 2015

Makna Syukur

Syukur adalah memuji Dzat yang memberi kenikmatan atas limpahan kebaikan yang Dia anugerahkan. Syukur seorang hamba memiliki 3 rukun, di mana seseorang belum dianggap bersyukur bila tidak memenuhinya. Ketiga rukun tersebut adalah:
a. Mengakui nikmat yang diterima secara batin
b. Menceritakan nikmat yang diterima secara zahir
c. Menggunakan nikmat yang diterima untuk ketaatan kepada Allah
Jadi syukur itu dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Beryukur dengan hati berarti meniatkannya untuk kebaikan semua makhluk. Sedangkan, bersyukur dengan lisan berarti menunjukkan rasa syukur itu kepada Allah dengan memujinya sambil mengucapkan hamdalah.
Diriwayatkan bahwa dua orang sahabat Anshar bertemu, kemudian mereka saling sapa. "Apa kabarmu pagi ini?" Yang ditanya menjawab "Alhamdulillah." Mendengar hal itu maka Rasulullah bersabda, "Benar, Ucapkanlah seperti itu."
Diriwayatkan pula bahwa seorang lelaki menyalami Umar bin Al Khaththab. Kemudia Umar menjawab salamnya dan bertanya, "Bagaimana kabarmu pagi ini?" Lelaki itu menjawab, "Alhamdulillah." Mendengar jawaban itu maka Umar berkata, "Itulah yang ingin kudengar."
Para salafushaleh biasa saling bertanya kabar dengan maksud agar keluar kata-kata syukur kepada Allah, karena orang yang beryukur dianggap sebagai orang taat, dan orang yang menyebabkan keluarnya kata-kata syukur juga dianggap sebagai orang yang taat.
Abu Abdurrahman Al-Hamli berkata, "Bila seseorang mengucap salam kepada orang lain kemudian menanyakan kabarnya, dan orang yang ditanya kemudian menjawab, "Aku memuji Allah untukmu." Maka malaikat yang berada di sebelah kirinya akan bertanya kepada malaikat yang berada di sebelah kananya, "Bagaimana engkau akan menulisnya?"maka malaikat yang di sebelah kanan akan menjawab, "Aku akan mneulis bahwa dia merupakan orang yang banyak memuji Allah."
Adapun bentuk syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat Allah dalam hal ketaatan dan tidak menggunakannya dalam hal kemaksiatan. 
Seseorang pernah bertanya kepada Abu Hazim, "Wahai Abu Hazim, bagaimana bentuk syukur atas kedua mata?" Ia menjawab, "Jika dengan keduanya engkau melihat kebaikan maka sebarkanlah, dan jika dengan keduanya engkau melihat keburukan maka tutupilah." Orang itu kembali bertanya, "Kalo syukur atas kedua telinga?" Abu Hazim menjawab, "Jika dengan keduanya engkau mendengar kebaikan maka resapilah, dan jika dengan keduanya engkau mendengar keburukan maka tolaklah." Orang itu bertanya lagi, "Kalau syukur atas kedua tangan?" Abu Hazim menjawab, "Jangan mengambil yang tidak menjadi haknya. Dan jangan mencegah hak Allah atas keduanya." Orang itu kembali bertanya, "Kalau syukur atas kedua kaki bagaimana?" Abu Hazim menjawab, "Jika engkau mengetahui seseorang yang meninggal yang engkau kagumi, maka gunakanlah kedua kakimu untuk melakukan amalan yang ia lakukan semasa hidup. Dan, jika engkau mengetahui seseorang yang meninggal yang tidak engkau sukai maka cegahlah kedua kakimu dari melakukan amalan yang ia lakukan semasa hidup sedangkan kamu terus bersyukur kepada Allah.”
Sebagian ulama mengatakan, "Beryukur adalah ketika tidak menggunakan sesuatu pun dari nikmat yang diterima untuk kemaksiatan."

(Dikutip dari Buku Sabar dan Syukur – Ulya Ali Ubaid)


Saturday, March 14, 2015

Untuk Bapak

Banyak sekali hikmah pembelajaran yang terbalut dalam dentingan waktu selepas kepergian Bapak ke sisi Allah SWT. Pemahaman yang sampai saat ini belum bisa saya susun secara utuh, rasanya masih tercerai berai seperti puzzle yang sangat berantakan ketika harus menata hati untuk menerima bahwa realitanya saya menuju masa depan tanpa Bapak di samping saya. 

Semua rasanya benar-benar berubah. Dan, saya harus menerima dengan lapang demi perjalanan Bapak untuk yang terakhir kalinya ke hadapan Sang Ilahi. Semua teramat singkat jika mengingat beberapa waktu lalu saya masih bisa jelas mendengar percakapan Bapak, masih bisa dengan leluasa mendekap erat tubuh Bapak kapanpun. Teduh. Iya, bersama Bapak ada gejolak rasa yang tidak dapat saya deskripsikan hanya dengan kata-kata. Di samping Bapak, saya merasa kekuatan saya tersirat dengan sempurna.


Adek sangat sayang Bapak. Meskipun kini kita sudah di alam berbeda, atmosfer keberadaan Bapak akan selalu memeluk saya setiap saat. Terima kasih telah bersedia menjadi pahlawannya Adek yang tidak pernah lelah menghadapi saya yang sedang dalam proses pendewasaan. Terima kasih atas segala yang terindah dari Bapak yang selalu saya genggam, selamanya. 

Tuesday, February 24, 2015

Dari Adek

Siapa yang sedang merasa benar-benar sendiri selain ditemani oleh Allah? Siapa yang sedang merasa sangat bingung harus berbagi cerita kepada siapa yang  paling tepat tentang semua yang sedang bergumul dalam dirimu? Siapa yang sedang di setiap larut malam harus terpaksa mengeluarkan air mata untuk sekedar menepiskan rasa sedih? Siapa yang sedang berpura-pura semua baik-baik saja di depan semua orang demi membungkus dengan rapih setiap gejolak yang sedang terjadi? Siapa yang sedang merasakan rasa rindu yang amat hebat saat-saat semua terasa sejalan dengan mulus? Siapa yang sedang merindukan kebersamaan keluarga di rumah?

Mungkin saya.

Lekas sembuh ya bapak. Lekas kembali ke rumah dan membangun kembali kekuatan rumah ini. Lekas kembali menjadi pendamping yang paling setia saya bersama mamah.

Thursday, January 29, 2015

Young on Top

Setiap manusia diberikan pilihan. Terkadang, pilihan itu sesuatu yang tidak kita suka dan sulit untuk mengusahakan yang terbaik. Padahal hasil terbaik lebih mudah didapatkan ketika kita mengerjakan sesuatu yang kita suka. Intinya kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi lebih baik apabila kita sudah mencintai apa yang kita lakukan. Mencari dan mengetahui suatu jenis pekerjaan yang kita suka atau bahkan yang kita cintai adalah langkah terpenting yang harus dilakukan untuk tercapainya kesuksesan karir. Namun, saat kita sudah berada di pilihan yang tidak kita suka, beranikan untuk tetap menjalankan itu semua dan Love What You Do yang diawali dengan rasa syukur dan menghargai hal yang kita miliki.

Semua orang sukses mengungkapkan bahwa mereka bersyukur atas semua yang mereka miliki, yang telah mereka lakukan dan telah mereka lalui. Jadi, jika kita belum ingin dan belum mampu bersyukur akan hal-hal sederhana yang kita miliki dan baru berencana akan bersyukur jika nanti kita sudah sukses, percayalah hidup tidak akan bahagia. Kemungkinan besar keseharian kita penuh dengan kekecewaan dan semakin jauh dari arti sebuah kesuksesan jika tidak bersyukur.
Untuk sukses kita harus tahu hal yang kita inginkan maka, semua perilaku dan tindakanmu akan mengupayakan keinginan itu untuk terwujud. Pada umumnya, yang kita inginkan adalah hal-hal yang baik. Oleh sebab itu, dalam melakukan segala tindakan untuk mencapai keinginan tersebut, kamu harus memiliki integritas yaitu melakukan segala sesuatunya dengan jujur dan konsisten. Tingkat kejujuran seseorang berjalan seiring tingkat profesionalisme orang tersebut. Hal itu mendorong kita untuk “naik ke atas” dan akhirnya menikmati arti kesuksesan sesungguhnya.
Salah satu perbedaan antara orang biasa dan orang sukses. Orang sukses tidak takut gagal, Orang sukses tidak takut tidak dapat mencapai impiannya dan biasanya yang mereka buat adalah mimpi yang besar juga dibarengi dengan kepercayaan diri tinggi. Namun, hal itu akan menjadi tidak ada artinya jika kita tidak memiliki hasrat pantang menyerah dalam diri. Sepanjang proses menjadikan impian tersebut menjadi realita, kita pasti melakukan suatu kesalahan dan melewati macam rintangan. Jangan kaget dan panik ketika menemukan masalah. Anggap saja masalah hanyalah sebuah polisi tidur di jalan antara rumah menuju ke sekolah. Kita tidak akan berhenti total dan tidak melanjutkan perjalanan ke sekolah hanya karena polisi tidur di jalan yang kita lalui bukan? Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini jika kita terus menerus berusaha. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan, selain kemauan yang tinggi untuk mencapai kesuksesan itu sendiri.
Selamat menerjang batas meraih impian! :)


Januari 2015. Sudah hampir berakhir.

Saturday, December 27, 2014

Singkat

Hidup itu hanya seputar impian, perjalanan, dan kenangan. Dimana di sela-selanya menguap pertanyaan-pertanyaan yang kadang hanya mampu puas terjawab oleh putaran waktu dan kebenaran takdir. Tugas kita hanya menunggu selagi melakukan rutinitas atau kesibukan, yang pada faktanya ada banyak hal yang sebenarnya sedang berusaha disingkirkan dibalik setiap orang sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Salah satunya hal rindu.

Belum ada yang pasti jika menyibak tentang rasa rindu. Tidak ada barometer yang mampu mengukur kekuatan rindu. Tidak ada yang bisa memastikan kapan rindu itu akan muncul atau akan berakhir. Belum pasti jika orang yang kita jadikan objek kerinduan juga menyimpan rasa yang sama seperti kita. Dengan rindu, juga belum pasti akan ada pertemuan. Bahkan bisa saja sebaliknya, justru tetap dengan perpisahan yang tak kunjung surut.


Entahlah, apa makna yang benar-benar dari rindu? Saya juga belum tahu pasti. Namun, sepertinya rasa yang belum bisa terdefinisikan dengan baik itu sedang berusaha mempermainkan diri saya.