Thursday, April 23, 2015

Kehilangan

Kehilangan membuat semuanya tidak lagi sama
meski usaha sudah mati-matian
untuk menutup rasa kehilangan sekalipun
selalu saja gagal. menangis.
mengalir tak tertahankan.
Lelah? iya. sangat.
Lelah harus berpura-pura kuat di depan.
Letih harus memaksa hati ini kembali utuh seperti dulu
selalu saja gagal. retak. rapuh.
Hati ini sudah terlanjur patah
Butuh waktu yang tidak singkat untuk mengobatinya

Saya rindu saya yang dulu
yang selalu dalam tawa meski terkadang tawa itu palsu
tapi tidak sepalsu sekarang
Saya rindu saya yang dulu
yang tidak suka dengan diam, melamun.
Saya rindu saya yang dulu
Yang tidak mudah terbawa emosi
Tidak seperti sekarang, semua dikendalikan oleh perasaan
Emosi tangisan yang menyakitkan
Ah! mana saya yang dulu?

Saya rindu saya yang dulu
Lebih lagi, sungguh saya rindu Bapak
Tidak pernah terbersit Bapak akan pergi secepat ini
Saya sangat rindu Bapak
Saya begitu rindu Bapak
Saya rindu sekali Bapak
Saya benar-benar rindu Bapak
Saya luar biasa rindu Bapk
Saya selalu rindu.
Rindu Bapak

Thursday, April 2, 2015

Seberkas Cahaya

1 bulan 3 hari seusai terlukisnya kenangan Stasiun Tawang. Bulan April yang menebarkan mosaic-mosaic kisah tertentu.

            Sudah 5 hari Fala dan Mas Farrid tidak bertegur sapa, berbalas short message atau chat whatsapp, tidak ada dering telephone dari Mas Farrid, dan kabar basa-basi semacamnya. Dan, pada saat hari Jumat sehari sebelum Ulang Tahun Fala ke-17. Handphone Fala dibajak ke semua contact bbm oleh salah seorang teman. “Aku sekarang jualan telur asin, murah. Minat? Ping”. Jangan tertawa! Memalukan. Setelah Fala mengetahui ulah temannya itu, dia langsung mengirim broadcast yang mengumumkan “Dibajak”. Tidak lama kemudian, Mas Farrid mengirimkan bbm.

            “Kenapa? Kok bisa dibajak terus?”. Mas Farrid sudah lihai menghafal social media Fala sering dibajak oleh orang yang sama pula. Namanya Arya. Dia memang gemar sekali melakukan pembajakan dan Fala rasa Mas Farrid sedikit sensitif dengan Arya. Haha bagaimana tidak? Fala sering bercerita ke Mas Farrid tentang dia yang usai dicubit pipinya, dipengaruhi untuk move on dan selalu percuma, diantar pulang, pergi atau makan bersama dengan Arya. Tapi, jangan khawatir. Fala dengan Arya pulang, pergi, atau duet makan hanya sebatas sebagai 2 orang partner kerja dalam event sekolah.

            Fala mulai mendeskripsikan kejadiannya. “Iya tadi kan bersih-bersih Ruang OSIS hpku tak taruh sembarangan terus dibajak.”

            “Yah, bisa-bisanya jualan kok ya, aku padahal mau pesan lho.” Responnya dia membuat Fala bertanya-tanya. Orang yang selama 1 tahun ini mengotak-atik hatinya bercanda atau sedang berkata mengenai hal lain. Mungkin lebih baik Fala tidak menggubris responnya dan membalas dengan nada kesah. “Enggak tau tu nyebelin, tadi udah ada yang tanya harga coba bang.”

            Dan lagi, Mas Farrid masih merespon dengan teguran yang hampir serupa dengan sebelumnya. “Cocok berarti jadi penjual, tapi aku nggak mau pesan barangnya kok.” Lho, apa maksudnya? Batin dalam hati kecil Fala yang terbungkus rapi.

            Fala membalas dengan sebuah pertanyaan “lho lha mau pesan apa abang?”. Entah, seketika itu darahnya terpompa lebih cepat. Ruang bilik kanan jantungnya lebih semangat mengatur fungsinya membuat nadinya berangsur berdenyut lebih terasa. Deg-degan. Huh, dia mulai melakukan kebiasaannya. Pergi menghilang tanpa kata, pamit atau penjelasan. Baru 1 jam kemudian, ada bbm masuk berlabel Mas Farrid. “Maaf baru setrika tadi, mau pesen yang jualan.” Hah? Apa makna yang tersirat dari susunan kata tersebut.

            “Emang barang dipesen bang wuu”

        “Iya dipesen dulu sebelum diambil orang, ahaha” Fala berpikir keras dan mengumpat dengan pertanyaan yang tak tersampaikan. Ini serius atau hanya mainan?

            “Siapa to yang mau ngambil dri abang”

            “Ya siapa tau ada, beruntung lho bisa dapet Falaaa” Oke. Fala berharap ini bukan sedang dalam zona waktu bercandaan, bukan sekedar hanya sekelebat kalimat yang lekas kabur tanpa makna. Fala berharap dia bisa membuktikkan lebih untuk meningkatkan kepercayaan terhadap Mas Farrid. Maklum, Fala hanya takut. Takut kehilangan?

            Di malam itu percakapan via bbm mereka berlanjut sampai kisaran pukul 23.15. Malam sudah semakin siap menemani dalam candu hujan bintang. Rembulan dengan sabitnya tak kuasa menitipkan sinarnya pada dunia. Cerah. Tidak tampak awan yang segan mengganggu percakapan Fala dan Mas Farrid malam ini. Meski harus berakhir dengan kebiasaan si cowok tidak membalas. Ah! Tidak habis piker dengan Fala. Untuk kesekian kalinya, dia hanya bisa berprasangka positif bahwa Mas Farrid sedang berhadapan dengan jejalan tugas-tugas dan bersembunyi di balik buku-buku tebal. Dan dengan serpih-serpih kekecewaannya, Fala menuju tempat tidur sebagai akhir penantiannya malam ini. Berusaha menghilangkan harapan Mas Farrid memberikan ucapan Selamat Ulang Tahun yang pertama. Fala merebahkan tubuh di kamar, memeluk guling dan menarik selimut hingga membenamkan setengah dari kepalanya. Lupakan adegan first-say, kejutan berkue dengan lilin-lilin kurcaci romantisme!

            Ternyata. Kenyataannya.

            Pukul 23:59, dengan lensa mata yang belum seluruhnya terpenjar sempurna membentuk bayangan tepat di retina, Suara dering call masuk dari Handphonenya menggertak Fala untuk segera meraihnya. Hah, Mas Farrid. Ini bukan mimpi.

            “Assalamualaikum” Sapa Fala berusaha menghilangkan sisa suara-suara desahan gontai seusai bangun tidur.

            “Waalaikumsalam Fala, belum tidur?”

            “Belum, gimana?” Tidak mengerti mengapa lidahnya mengucapkan pernyataan berbohong. Ya begitulah cinta. Ia enggan membuat Mas Farrid merasa sungkan telah membangunkannya dengan jaringan telephone yang teralamatkan kepada Fala. Padahal semua orang harus tahu. Fala pasti senang dan selalu begitu ketika waktu memberikan Mas Farrid kesempatan untuk sejenak menyalurkan suaranya melalui Telephone, kapanpun itu meski harus tidak tidur sekalipun. Berlebihan tapi itulah yang sedang Fala rasakan saat ini.

            “Oalah, belum ngantuk? Tumben biasanya udah tidur.”

            “Hehe iya og mas.” Fala memang jika dalam perantara suara masih sering memanggil si cowok dengan sebutan mas, bukan abang. Apalagi saat itu, bapak Fala masih belum terjaga dalam malam.

            “Eh, udah jam 12, selamat ulangtahun ke-17 Fala.” Deg. Speechless. Glad. Seuntai kalimat itu tersimpan rapi langsung membeku membasuh telinga. Gelombang suaranya diterima sempurna oleh selaput gendang telinga. Ini istimewa, meskin bukan seperti fairy tale yang membawakan kue berhias lilin-lilin pelangi, menerbangkan lampion warna-warni, atau saling memeluk di tengah malam untuk bertransformasi ke dalam hangat dekapan masing-masing.

            “Eh, makasiih Mas Farrid. Tapi, kan aku ulangtahunnya waktu abang pulang. Jadi, selama Mas Farrid belum pulang aku nggak ulangtahun” Sebelum ini Fala sudah mengatakannya. Efek keinginan yang teramat hebat untuk dia dapat ada disini- di depan mata- saat Fala ulang tahun yang ke 17.

            “Sama-sama Fala. Halah jangan gitu to, ulangtahunmu waktu lebaran aja jadi.”

            “Yaudah to ulangtahunku waktu lebaran nggakpapa.” Fala tidak bermaksud untuk menambah pikiran Mas Farrid. Tenang saja, si perempuan paham dengan keadaan kita. Long Distance Relationship.

“Haha ya jangan. Udahlah semoga Fala tambah baik, tambah pinter, tambah  rajin, dan doa-doa lainnya yang terbaik buat kamu.” Sungguh, apapun doanya akan selalu Fala simpan dengan tulus di dalam labirin hati saya. Suara Mas Farrid merdu mengalirkan acuan senyuman yang manis. Andai teknologi handpone dilengkapi fasilitas auto record khusus. Setiap hari akan menjadi rutinitas list yang menemani Fala.

            “Aamiiin ya rabbal alamin, eh Fala boleh minta sesuatu bang?”

            “Iya boleh dong, apa Fala?”

            “Abang nyanyi Happy Birthday buat Fala dong, pingin denger abang nyanyi”

            Setelah itu, Mas Farrid mulai mengambil nada untuk menginterupsi lagu sederhana itu menjalar ke telinga dan masuk berangsur menyatu dengan segalanya di dalam tubuh Fala. Indah. Benar-benar indah. Fala sangat suka.

            “Yeay, makasih Mas Farrid. Bagus.”

            “Iya, Fala punya harapan apa di 17 tahun ini?”

            “Semoga pensi sukses, tambah dewasa, tambah positif, bisa mbanggain orang yang sayang sama Fala, cepet ketemu Mas Farrid.” Yay, ada nama dia di deretan keinginan Fala, pastilah. Kerinduan ini sangat krusial jika tidak segera diobati dengan pertemuan.

            “Ciyeh aamiiiin ya rabbal alamin. Andai abang boleh pulang sekarang detik ini juga, aku langsung ke rumahnya Fala.” Hm. Langsung sinkronisasi antara mata, hati, dan pikiran Fala berasumsi membayangkan dia ada di depan saya, berbagi tawa memecah kerinduan menjadi kebahagiaan. Tapi, belum saatnya untuk sekarang.

            “Santai aja bang. Fala bakal nunggu abang.” Kalimat beginilah yang biasanya menjadi respon kegigihan Fala terhadap Mas Farriq jika dia sedang menyayangkan kepulangan yang masih menunggu waktu lama atau disaat dia berpamit kembali ke Bogor.

            “Juli abang pulang kok”

            Percakapan demi percakapan terukir diantara mereka. Memadu-padakan dengan tirai-tirai angin dini hari yang menyatu dengan kehangatan suara. Sudah lebih dari 60 menit berlalu. Potongan-potongan kalimat mengusik diantara mereka untuk tidak ingin ada yang mengakhiri. Berbicara tentang hati yang mulai meniti di klimaks. Mas Farrid bertanya kepada Fala banyak-tentang-hati. Menjelejahi setiap sisi perasaan Fala selama ini.

            Kita udah kenal berapa lama ya?

            Kita awal kenal gimana ya?

            Fala lagi deket sama siapa aja selain abang?

Apa bedanya teman deket sama pacar?

Selama ini  Fala merasa digantungin? Fala capek?

Menurut kamu Long Distance Relationship gimana?

Apa Fala nyaman dengan LDR?

            Banyak sekali hal-hal yang tidak pernah saya duga yang dia tanyakan. Sampai pada akhirnya. Setelah 7200 detik seakan berlari. “Fala mau nggak jadi pacar Abang?”

Fala (selamat jadi pacar pertama Fala)
Mas Farrid (dan terakhir ya, dijaga.)

Saturday, March 21, 2015

Surat Rahasia

Assalamualaikum. Iya salam ini untuk kamu wahai jodoh saya yang masih dalam simpanan rahasia Allah, yang masih sama-sama menunggu pada waktu yang telah ditentukan atas takdir bertemu. Siapa kamu? Apa sekarang kita sudah mengenal dekat, atau sebaliknya masih asing? Apa kita sudah terjalin dalam hubungan sebagai teman, kakak atau justru belum pernah sekalipun bertatap muka? Atau kamu adalah salah satu pembaca kalimat ini?
Oh iya, sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Apakah kamu sedang sibuk mendekatkan diri kepada Allah?
Memohon untuk keberhasilan impian-impian yang sudah kamu tuliskan di buku agenda harianmu? Apa saja impian-impianmu? Profesi apa yang kamu idam-idamkan? Jika boleh meminta, saya ingin kamu menjadi abdi negara seperti kedua orangtua saya. Bukan berarti harus sebagai tentara. Melainkan seperti dalam bidang sandi negara, pemerintahan dalam negeri, pelayaran atau penerbangan. Saya sudah bisa membayangkan kamu dengan gagah mengenakan seragam kebanggaan bersanding di samping saya di tengah-tengah keluarga kita masing-masing. Aamiiin ya rabbal alamin.
Sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Sedang sibuk bercengkerama dengan tumpukan buku dan tugas-tugas yang berserakan kah?
Saya berharap jodoh saya memiliki ilmu juga intelektual yang tinggi, yang melekat dengan jiwa kepemimpinan yang santun. Maaf untuk saat ini belum ditakdirkan untuk bisa menyemangati kamu wahai calon imam saya. Maaf untuk jangkauan sekarang ini saya hanya masih bisa sekedar berdoa agar kita disegerakan untuk bertemu. Karena saya bisa meraba-raba betapa bahagianya perasaan kita jika takdir momen pertemuan itu terwujud dengan indah.
Sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Apa mungkin sedang berdamping-dampingan dengan ayah ibu kamu?
Bersyukurlah kamu ya jika masih diberi kesempatan untuk merasakan keutuhan keluarga bersama kedua orang tua. Karena saya sekarang sudah merasakan pahitnya kehilangan cinta pertama dari orang yang paling saya sayangi, cintai, kagumi dan kasihi. Iya, kehilangan seseorang yang seharusnya di masa depan nanti juga akan menjadi Bapak kamu, menjadi wali saat kamu mengucap janji sehidup semati dengan saya. Yang menjadi pertanyaannya, apakah kamu sudah pernah bertemu dengan Bapak saya? Apakah kamu salah seorang yang kemarin sempat mengantarkan Bapak saya di tempat peristirahatan untuk terakhir kali? Jika iya, syukurlah. Jika tidak, semoga itu bukan jadi masalah kamu untuk tetap saling menghormati dan menyayangi keluarga saya. Saya sangat berharap siapapun kamu yang menjadi jodoh saya adalah sesosok yang dapat sekiranya mengobati kerinduan saya kepada Almarhum Bapak. Seseorang yang sangat mencintai keluarga, memegang tanggung jawab dengan kuat dan tegas, imam yang sangat sholeh, santun dan bijaksana. Sempurna. Aamiiiin ya rabbal alamin.
Sedang apa kamu di malam minggu seperti ini? Apa kamu justru sedang bergumul dengan teman-teman sebayamu di malam yang bebas? 
Saya harap tidak yang demikian ya. Saya tidak ingin memiliki jodoh yang hanya bisa membuang-buang uang dan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, karena itu bukan tujuan hidup yang sebenarnya. Saya yakin kamu sudah bisa menyaring mana yang baik bagimu dan sebaliknya. Saya percaya kamu imam seutuhnya bagi saya dari Allah untuk sama-sama saling mengingatkan menuju kekekalan surgaNya.
Jaga diri ya. Semoga kita lekas bertemu. Saya ingin bercerita banyak kepada kamu.
Wassalamualaikum.